Jumat, 05 Oktober 2012

Tipologi Bahasa


MORFOSINTAKSIS

TIPOLOGI BAHASA


Logo Undip statuta


Kelompok 7:
Nikolaus Rendi
Nining Prastyowati
Isnani Muflikhatin
Ajar Setiawan
Yanuarria Kukuh Perwira


UNIVERSITAS DIPONEGORO PROGRAM PASCASARJANA (PPs)
PROGRAM STUDI MAGISTER LINGUISTIK UMUM
2012

            Saussure (1959) mengatakan bahwa bahasa dan pesan yang disampaikan dapat disejajarkan dengan konsep langue dan parole. Langue adalah tanda atau aturan yang didasarkan pada mana setiap pembicaraan menghasilkan parole sebagai suatu pesan khusus. Sejalan dengan konsep ini, Aitchison (1992) mengatakan bahwa bahasa memiliki bunyi, bentuk, dan makna. Bunyi dan pola-pola bunyi dapat dipelajari melalui ilmu fonetik dan fonologi. Prinsip bahasa yang menyangkut bentuk dapat dipelajari melalui morfologi dan sintaksis. Sedangkan makna bahasa, makna kata dan makna kalimat dapat dipelajari melalui kajian semantik. Oleh karena itu, kajian terhadap suatu bahasa bisa dilakukan secara terpisah secara mikro tanpa menghubungkannya dengan aspek luar bahasa dan secara makro yang melibatkan aspek luar bahasa itu sendiri.

1.      Tipologi Bahasa dan Aliansi Gramatikal
Mallinson dan Blake (1981: 3) mengungkapkan bahwa tipologi bahasa bersinonim dengan istilah taksonomi. Dalam istilah linguistik, istilah tipologi lebih sering digunakan. Hal menarik yang dicirikan oleh tipologi ialah adanya pengelompokkan bahasa-bahasa berdasarkan ciri khas kata dan tata urut kalimatnya. Oleh karena itu, teori tipologi bahasa merupakan teori yang mendasari analisis tipologi suatu bahasa tertentu. Tipologi bahasa sebenarnya mengacu pada pengelompokkan bahasa berdasarkan ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh bahasa tersebut yang dapat juga dilihat dari kata dan tata kalimatnya. Lebih lanjut dijelaskan ada beberapa hal yang dibicarakan dalam tipologi bahasa secara morfo-sintaksis, yaitu 1) pemarkahan Agen dan Pasien, 2) Tata urut kata, 3) Koordinasi: reduksi konjungsi, dan 4) subordinasi; klausa relatif. Lebih lanjut dikatakan bahwa pemarkahan Agen dan Pasien dan tata urut kata merupakan dua buah topik yang bertautan dengan kalimat sederhana, sedangkan koordinasi yang berupa reduksi konjungsi dan subordinasi; klausa relatif menjadi bertautan dengan kalimat kompleks. Dengan adanya prinsip dasar kerja tipologi bahasa yang didasarkan atas struktur kalimatnya, maka bahasa dapat dikelompokkan menjadi bahasa yang akusatif dan bahasa yang ergatif.
Comrie (1988) dan Artawa (2004) mengungkapkan bahwa bahasa-bahasa dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu bahasa ergatif dan akusatif, pasif, dan aktif dan antipasif. Suatu bahasa dikatakan bertipe ergatif apabila pasien (P) dari verba transitif diperlakukan sama atau koreferensial dengan subyek (S) pada klausa intransitif dan berbeda dengan agen (A) dari verba transitif. Bahasa ergatif memperlakukan P sama dengan S. Biasanya sama-sama tidak bermarkah. Kalimat yang bertipe akusatif adalah kalimat yang memiliki sistem dimana A sama dengan S dan perlakuan yang berbeda dengan P. Sedangkan bahasa yang bertipe aktif adalah tipe bahasa yang menunjukkan bahwa ada sekelompok S yang berperilaku sama dengan P dan sekelompok S yang berperilaku sama dengan A dalam satu bahasa.

2.       Peran Semantis
Peran semantis yang dimaksud adalah peran semantis yang ada hubungannya atau dalam tipologi bahasa dan aliansi gramatikal. Pengkajian aliansi gramatikal pada dasarnya didasari dan dicermati melalui kajian tipologi bahasa yang bersangkutan. Dalam hal ini, semua bahasa memiliki struktur yang verbanya berbentuk transitif dan intransitif. Verba intransitif memerlukan hanya satu argumen saja, sedangkan verba transitif menghendaki dua argumen atau lebih. Perhatikan istilah-istilah argumen yang dikehendaki oleh verba intransitif dan transitif. Istilah-istilah yang dipakai dikutip dari Comrie (1989), sebagai berikut:
S (Subyek) = satu-satunya argumen dalam kalimat intransitif
A (Agen) = argumen agen dalam kalimat transitif
P (Pasien) = argumen pasien dalam kalimat transitif
Lebih lanjut dikatakan bahwa S merupakan patokan dalam menentukan tipologi bahasa yang dapat dilakukan secara morfologis dan sintaksis. Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa A atau P bisa diperlakukan dengan cara yang sama dengan S. Perilaku sintaksis A atau P dipergunakan sebagai alat ukur untuk menentukan tipe suatu bahasa. Sehingga dengan demikian dapat dijelaskan bahwa: (a) apabila suatu bahasa memperlakukan A dan S dengan cara yang sama, maka bahasa tersebut digolongkan sebagai bahasa yang bertipe akusatif, (b) apabila P dan S diperlakukan dengan cara yang sama, maka bahasa tersebut digolongkan ke dalam bahasa yang ergatif. Penentuan penggolongan bahasa ini sangat bergantung dari perlakuan secara morfologis atau sintaksis. Sehingga dengan demikian, perbedaan perlakuan secara morfologis dan sintaksis suatu bahasa merupakan suatu hal yang sangat penting dalam tipologi bahasa. Kedua tipe bahasa tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Akusatif                                   Ergatif







Oval: S
P

Oval: S
A

 




                                   
                            P                                              A
3.       Konstruksi Kalimat Subordinatif
Konstruksi subordinatif adalah hubungan antara klausa-klausa yang tidak setara. Satu klausa merupakan klausa bebas (independent clause), dan klausa lainnya merupakan klausa terikat (dependent clause). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa keberadaan salah satu klausanya merupakan bagian dari klausa liannya. Sebuah konstruksi kalimat subordinatif dapat terdiri atas satu klausa utama dan satu klausa subordinatif. Perhatikan contoh dalam bahasa Inggris berikut ini:
1) Liz prepared the food that they had ordered
Kalimat 1) di atas terdiri atas dua klausa. Klausa utamanya adalah Lis prepared the food. Sedangkan klausa that they had ordered merupakan klausa subordinatifnya. Konstruksi kalimat subordinatif dapat ditandai dengan kehadiran konjungsi subordinatif sepeerti that ‘bahwa’, after ‘setelah’, before ‘sebelum’, because ‘karena’ atau ‘sebab’, while ‘sementara’, dan sejenisnya. Dengan demikian, klausa yang mempunyai konjungsi subordinatif itu berfungsi sebagai klausa subordinatif dan klausa yang tidak berkonjungsi berfungsi sebagai klausa utama.
Seperti halya konstruksi koordinatif, dalam konstruksi subordnatif juga didapati dua klausa yang berderet berdampingan dengan tidak memakai konjungsi secara formatif, dan hubungan dipahami sebagai hubungan subordinatif seperti contoh berikut ini:
2) Having finished breakfast, we went for a walk
3) After we had finished breakfast, we went for a walk.

Kalimat 2) di atas mempunyai dua klausa yang berderet berdampingan tanpa memakai konjungsi secara formatif. Kalimat tersebut dapat dipahami maknanya sebagai kalimat. Sedangkan kalimat 3) berupa kalimat berkonstruksi suborbinatif dengan konjungsi “after”. Kalimat tanpa konjungsi secara formatif ini dalam bahasa Inggris lazim disebut kalimat yang berkonstruksi participial.

4.      Tipologi Bahasa Kalimat Subordinatif
Dalam bahasa Indonesia, kalimat subordinatif dibangun dengan konjungsi yang dapat berbentuk antara lain: karena, sebab, jika, hanya jika, meskipun, walaupun, bahwa, agar, dan sebagainya. Berbicara mengenai tipologi bahasa Indonesia, ada baiknya terlebih dahulu melihat tipologi bahasa yang ada, yaitu: tipologi akusatif, aktif, pasif, ergatif dan antipasif. Tidak ada satu bahasa pun yang memiliki satu tipologi tertentu, apakah bahasa tersebut ergatif saja, akusatif saja, dan bahkan pasif saja. Berdasarkan hal ini pula, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia memiliki semua tipologi bahasa yang dapat dikelompokkan dan dianalisis sebagai berikut dengan contohnya masing-masing:
4.1.Kalimat Ergatif dan Akusatif
Seperti dikatakan oleh Comrie (1988) dan Artawa (2004) bahwa kalimat yang bertipe ergatif bisa dilihat dari sudut pandang morfologi dan sintaksis, dan khusus penganalisisan kalimat ergatif secara diskursus bisa dilihat secara terperinci dalam Verhaar (2006). Kalimat ergatif secara morfologis adalah apabila komplemen Subyek (S) verba intransitif dimarkahi dengan cara yang sama dengan Pasien (P) verba transitif, dan berbeda dari komplemen Agen (A) verba transitif. Dan secara sintaksis dikatakan bahwa kalimat memiliki kaedah sintaksis yang memperlakukan S sama dengan P, dan berbeda dari A. Perhatikan contoh kalimat subordinatif bahasa Indonesia berikut ini:
1) Ahmad menjadi sangat sedih sebab Ibu memarahinya di depan umum
(ERG 1- rekonstruksi)
2) Dia jatuh karena terantuk (ERG 2 - Verhaar, 2006: 284)
3) Makanan terlalu basah akan membasahi bulu anak itik sampai menggumpal dan menjadi jarang (ERG 3 - Verhaar, 2006: 284)

Kalimat 1) sampai 3) merupakan kalimat yang bertipologi ergatif. Pada kalimat 1) Subyek ‘Ahmad’ diperlakukan sama dengan Pasien ‘nya; pada kalimat 2) ‘Dia’ dimarkahi sama dengan (dia) tetapi disimbolkan dengan θ atau dilesapkan; Kalimat 3) Pasien ‘bulu anak itik’ yang diperlakukan sama dengan Subyek klausa subordinatif dilesapkan. Dilihat dari hubungan antara kedua klausa dalam kalimat koordinatif, dapat dijelaskan bahwa kalimat 1) dan 2) merupakan kalaimat kompleks dengan konjungsi kausatif yang direalisasikan dengan ‘karena’, dimana klausa inti ‘Ahmad menjadi sangat sedih’ merupakan efek dari klausa subordinatif yang dianggap sebagai penyebab kejadian. Oleh karena itu, hubungan kedua klausa itu menyebabkan munculnya kalimat yang kausatif. Sementara itu, dalam 3), klausa inti dihubungkan dengan konjungsi ‘sampai’, sehingga hubungan ini menunjukkan bahwa terdapat kejadian yang diimplikasikan dari kejadian sebelumnya yang direalisasikan oleh klausa sebelumnya. Oleh karena itu, hubungan tipologi ergatif ini merupakan hubungan yang resultatif.
Sementara itu, kalimat yang bertipe akusatif adalah kalimat yang menggunakan simbol S, A, P (P yang menurut Dixon, 1979 termasuk di dalamnya adalah O). Artinya, dapat dianggap bahwa P itu mengandung peran semantis O di dalamnya. Dalam hal ini, akusatif terjadi apabila S diperlakukan sama dengan A, tetapi berbeda dengan P. Perhatikan contoh kalimat subordinatif bahasa Indonesia berikut ini:
4) Sri langsung pulang setelah menyelesaikan tugas (AKU 1 - rekonstruksi)
5) Sesudah mempertimbangkan segala hal, kita harus mengalah (AKU 2 -Verhaar, 2006: 277)
6) Anda harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dengan baik (AKU 3 - Alwi, dkk, 1998)
Kalimat 4) sampai 6) merupakan kalimat yang akusatif, dimana S pada klausa inti diperlukan sama dengan A pada klausa subordinatif yang ditandai dengan Ø. Hubungan kedua klausa ini merupakan hubungan resultatif yang ditandai dengan konjungsi ‘setelah’, ‘sesudah’, dan ‘agar’. Dikatakan resultatif karena kejadian pada klausa inti merupakan implikasi dari klausa subordinatif.
3.1.2 Kalimat Pasif dan Ergatif
Kalimat ergatif telah dijelaskan di atas, namun sangat berbeda dengan kalimat pasif. Berikut disarikan beberapa parameter yang dapat membedakan tipologi kalimat ergatif dan kalimat pasif seperti yang diungkapkan oleh Artawa (2004):
a) Pasif dan ergatif sama-sama melibatkan paling tidak properti S sama dengan P daripada A.
b) Pasif dan ergatif berbeda dalam hal bahwa ergatif secara tipologis melibatkan integrasi yang lebih besar dari frasa Agen ke dalam sintaksis klausa
c) Pasif dan ergatif berbeda dalam hal pemarkahan. Kalau pasif itu merupakan kalimat yang berkonstruksi kalimat bermarkah, sedangkan konstruksi ergatif konstruksi tak bermarkah.

Perhatikan contoh kalimat subordinatif pasif berikut ini:
7) Pemindahan dilakukan sewaktu kecambah masih pendek (PAS 1 - Verhaar, 2006: 283)
8) Dia merasa capek karena sering ditugaskan ke luar daerah (PAS 2 - rekonstruksi)
9) Mereka bahkan disiksa sampai meninggal (PAS 3 - Dhammannanda, 2005: 117)
Kalimat 7) sampai 9) merupakan kalimat pasif karena salah satu verba dimarkahi secara morfologis dengan penambahan prefik di-. Kalimat 7) merupakan kalimat yang resultatif sama dengan kalimat 9) yang merupakan resultatif juga. Pada 7) klausa inti merupakan implikasi dari klausa subordinatif, demikian juga dengan 9) dimana klausa subordinatif meninggal merupkan implikasi dari klausa inti disiksa. Sementara klaimat 8) merupakan hubungan yang kausati dimana kejadian pada klausa inti merasa capek merupakan efek dari atau disebabkan oleh kejadian klausa subordinatif, yaitu sering ditugaskan ke luar daerah.

3.1.3 Kalimat Aktif dan Antipasif
Kalimat aktif merupakan konstruksi dasar dari konstruksi akusatif, sementara kalimat antipasif merupakan konstruksi turunan dari kalimat ergatif. Dalam konstruksi antipasif diberlakukan bahwa Pasien dalam konstruksi transitif dapat dilesapkan atau dihilangkan dari sebuah klausa. Dalam hal ini, aktif dan antipasif sama dalam hal bahwa Agen memiliki properti Subyek. Disamping itu, Antipasif bisa digunakan untuk membuat kalimat yang ditransitif. Perhatikan contoh kalimat subordinatif bahasa Indonesia berikut ini:
10) Tiyang tetap punya keyakinan bahwa tiyang akan bisa menggapai cita-cita menjadi PNS (ANPAS/AKT 1 - Tokoh, 10/02/08: hal 1)
Kalimat 10) merupakan kalimat kompleks yang terdiri atas dua klausa, dimana klausa pertama merupakan antipasif (tidak bisa dipasifkan), dan klausa kedua merupakan klausa aktif yang statif. Dikatakan statif karena kejadian pada klausa inti “tetap punya keyakinan…” bukan merupakan implikasi dari klausa subordinatif yang ditandai dengan konjungsi bahwa.
11)  Polda Jabar belum memutuskan untuk mengijinkan stadion Si Jalak Harupat Bandung meskipun telah melakukan pertemuan secara khusus (AKT 2 - Bali Post minggu 10/2/08 hal 1)
12)   Sesudah menyelesaikan tugas, Sri langsung pulang (AKT/ANPAS 3 -rekonstruksi)
13)  Sesudah mempertimbangkan segala hal, kita harus mengalah (AKT/ANPAS 4 - Verhaar, 2006: 277)
14)  Susunan dan komposisi makanan pokok harus ada agar memenuhi syarat kesehatan dan gizi (ANPAS/AKT 5 - Verhaar, 2006: 284)
15) Ibu memarahiku sewaktu aku makan banyak semangka tanpa henti (AKT/ANPAS 6 - rekonstruksi)
16) Bapak menanam padi di sawah sewaktu ular mengejarnya (AKT 7 -rekonstruksi)
17) Bayu membenturkan kepala ke tembok ketika ayah memarahinya (AKT 8 - rekonstruksi)

Kejadian pada klausa inti pada kalimat 11) sampai dengan 17) merupakan implikasi dari klausa subordinatif yang dimarkahi oleh konjungsi ‘meskipun’ pada kalimat 11), ‘sesudah’ pada kalimat 12) dan 13), ‘agar’ pada kalimat 14), ‘sewaktu’ pada kalimat 15) dan 16), dan konjungsi ‘ketika’ pada kalimat 17).
18) Karena saya tidak menyadari hal itu, saya meninggalkan rumah (AKT 9 - Verhaar, 2006: 279)
19) Daun kantil umumnya berwarna hijau, karena mengandung zat warna hijau (ANPAS/AKT 10 - Verhaar, 2006: 283)

20) Karena Sri pulang, dia tidak dapat menghadiri rapat (ANPAS/AKT 11 - Verhaar: 2006: 277)
21) Karena dia merasa optimis, Charles meramalkan sukses (ANPAS/AKT 12 - Verhaar, 2006: 279)
22) Ibu mencubit aku karena aku minum tuak (AKT13 - rekonstruksi)
Sementara itu, kalimat 18) sampai 22) merupakan kalimat yang kausatif. Dikatakan kausatif karena kejadian pada klausa inti merupakan efek atau dampak yang disebabkan oleh kejadian klausa subordinatif yang dimarkahi dengan konjungsi ‘karena’.

3.2 Perubahan morfologis, Perubahan Argumen, dan Perilaku Koreferensial Kalimat Subordinatif
Gabungan beberapa klausa yang berupa kalimat subordinatif, apabila dilihat dari segi struktur lahirnya, maka akan terjadi beberpa kemungkinan. Salah satunya adalah pelesapan. Hal ini terjadi karena perubahan morfologi yang terjadi terutama ditandai dengan pemarkahan. Perubahan morfologi pada verba itu biasanya dimarkahi dengan penambahan unit-unit sintaksis yang berupa sufik, prefiks, ataupun konfiks. Oleh karena itu, perubahan tersebut akan berdampak pada pemaknaan verbanya. Dengan berubahnya makna karena perubahan morfologi itu, maka mempengaruhi pula argumen verba kalimatnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa beban semantik bahasa Indonesia mempengaruhi beban sintaksis gramatikal bahasa tersebut. Berdasarkan penjelasan ini, perilaku koreferensial argumen kalimat tersebut kemungkinan besar akan dilesapkan yang disebabkan oleh adanya perubahan tersebut. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa sistem koreferensial atau argumen yang sama dari klausa pembentuk kalimat subordinatif dengan jelas dapat dianalisis.
Sistem koreferensial mengacu pada perilaku argumen yang sama, baik secara eksplisit maupun secara implisit. Secara eksplisit berarti bahwa kekoreferensialan argumen dari salah satu klausa kalimat kompleks dimunculkan dalam kalimat tersebut. Dengan kata lain, tidak terjadi pelesapan argumen pada klausa kalimat kompleks tersebut. Sebaliknya, secara implisit artinya bahwa kekoreferensialan argumen dapat dimengerti dengan melakukan uji struktur batin kalimatnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa terjadi pelesapan argumen pada salah satu klausa klaimat kompleks tersebut. secara morfologis.
keberadaan bentuk morfologis verba atau predikat klausa inti ada yang mengalami perubahan dan ada yang tidak. Verba yang tidak mengalami perubahan yang dimaksud adalah verba dasar yang memiliki makna tertentu, sementara verba yang bermarkah secara morfologis mengalami perubahan. Beban semantik yang dilihat dari makna verba tersebut menentukan jumlah argumen inti setiap klausa, baik klausa inti maupun klausa subordinatifnya. Keberadaan sintaksis klausa inti memiliki hubungan atau relasi dengan klausa subordinatif yang didasarkan sepenuhnya dari makna verba dan keberadaan konjungsi. Kemudian, hubungan antara kedua klausa itu bisa dilihat secara anafora dan katafora. Yang dimaksud dengan anafora adalah keberadaan argumen dengan peran semantisnya berhubungan lurus ke depan ke klausa berikutnya yang ditandai pula dengan penggunaan atau kemunculan argumennya. Perhatikan bebrapa contoh kalimat subordinatif bahasa Indonesia berikut ini yang dikemas dalam bentuk gabungan dua klausa.

3.2.1 Pola Gabungan Klausa Intransitif dan Intransitif
Seperti diketahui bahwa argumen yang muncul pada klausa intransitif adalah Subyek (S) saja. Oleh karena itu, gabungan klausa intransitif dengan klausa intransitif akan memunculkan 2 argumen Subyek yang sama. Sehinga dengan demikian, kekoreferensialan argumen dapat dikatakan bahwa S = S. Artinya Subyek dari klausa intransitif pertama sama dengan atau koreferensial dengan Subyek klausa kedua. Dalam hal ini hanya ada satu kemungkinan koreferensial. Perhatikan contoh kalimat subordinatif bahasa Indonesia berikut ini:
23) Kita(S) berkata bahwa kita (S) merasa lebih baik (Dhammananda, 2005:3)
24) Ibu Siti (S) pulang karena dia (S) sakit (rekonstruksi)
25) Indra (S) menangis karena dia (S) bahagia (Rekonstruksi)
26) Paman saya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin (Alwi, dkk, 1998)

3.2.2 Pola Gabungan Klausa Intransitif dan Transitif
Seperti diketahui bahwa argumen yang muncul pada klausa intransitif adalah Subyek (S) saja. Pada kalimat atau klausa transitif dimunculkan dua buah argumen inti, yaitu Agen (A) dan Pasien (P) Oleh karena itu, gabungan klausa intransitif dengan klausa transitif akan memunculkan beberapa kemungkinan pola koreferensial, yaitu: S pada kalimat intransitif diberlakukan sama dengan A dan P pada kalimat transitif.. Sehinga dengan demikian, kemungkinan kekoreferensialan argumen yang didapat adalah berupa: S = A, S = P. Artinya Subyek dari klausa intransitif pertama sama dengan atau koreferensial dengan Agen atau Pasien klausa kedua.
27) Salsa (S) tidak bersedih walaupun Ø (A) telah memukul anjing itu (Rekonstruksi)
28) Jika anda (S) hidup dengan damai, maka anda (A) membuat dunia ini lebih berharga (Dhammananda, 2005: 18)
29) Pak David (S) bersedih karena Pak Lurah mengusirnya (P) (Rekonstruksi)
30) Mereka (S) bisa tetap bergembira saat Ø (P) mendapat kesusahan (Dhammananda, 2005: 121)


3.2.3 Pola Gabungan Klausa Transitif dan Intransitif
Seperti diketahui bahwa argumen yang muncul pada klausa transitif adalah Agen (A) dan Pasien (P) atau muingkin juga Obyek (O). Sedangkan satu argumen inti berupa Subyek (S) merupakan satau-satunya argumen yang muncul pada kalimat intransitif. Oleh karena itu, gabungan klausa transitif dengan klausa intransitif akan memunculkan beberapa kemungkinan pemolaan akan kedua klausa gabungan tersebut, yaitu A = S, dan P = S.
31) Aku (A) minum kopi karena Ø (S) ngantuk (Rekonstruksi)
32) Walaupun anjingnya (P) diracuni, Pak Anton (S) tetap tabah (Rekonstruksi)
33) Nenek (A) membaca komik ketika Ø (S) ada di rumah (Chaer, Abdul, 2003)

3.2.4 Pola Gabungan Klausa Transitif dan Transitif
Seperti diketahui bahwa argumen yang muncul pada klausa transitif adalah Agen (A) dan Pasien (P) . Oleh karena itu, gabungan klausa transitif dengan klausa transitif akan memunculkan 2 argumen Agen dan Pasien yang sama. Sehinga dengan demikian, kekoreferensialan argumen dapat terjadi dengan beberapa kemungkinan, yaitu, A = A yang artinya adalah Agen dari klausa transitif pertama sama dengan atau koreferensial dengan Agen klausa kedua; A = P artinya bahwa Agen klausa pertama sama dengan atau koreferensia dengan Pasien klausa kedua; dan P = A artinya bahwa Pasien klausa pertama sama dengan atau koreferensial dengan Agen klausa kedua
34) Ayrin (A) makan batagor dengan lahap ketika dia (A) menyelesaikan tugas pokok (Rekonstruksi)
35) Sebelum kita (A) mengambil keputusan, kita (A) jangan bertindak (Alwi, dkk, 1998)
36) Andaikan Saya (A) memperoleh kesempatan, Saya (A) akan mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya (Alwi, dkk, 1998)

Disamping itu, kalimat subordinatif bahasa Indonesia memiliki pula tipologi yang berbeda. Pola yang dimaksud adalah pola yang bersifat turunan, dimana terdapat lebih dari dua klausa dalam satu kalimat kompleks. Pola tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pola A1 = S2 = P3

37) Kita (A) membuat masalah luar biasa karena kita (S) tidak pernah mengira bahwa beberapa kejadian yang tidak terjadi pada kita (P) adalah alamiah (Dhammananda, 2005: 3)
2) Pola A1 = P2 = A3
38) Saya (A) memahami keadaannya (P) sebagaimana dia (A) memahami diriku (P) (Alwi, dkk, 1998)

3) Pola A1 = A2 = S3
39)Apabila si dokter mengharuskan kita (A) menjalankan operasi, kita (A) akan menerima fakta bahwa kita (S) harus lebih menderita jika memutuskan untuk menghadapi masalah baru (Dhammananda, 2005: 2)

4) Pola S1 = A2 = S3
40) Ketika kita (S) sakit kepala, kita (A) akan meminum obat pereda sakit sehingga kita (S) merasa lebih baik untuk beberapa saat (Dhammananda, 2005: 3)

5) Pola S1 = A2 & S3 = A4
41) Anton (S) tidak tampak gelisah setelah Ø (A) mencontek, seolah-olah dia (S) mampu Ø (A) mengerjakan soal-soal itu (Cahyono, Bambang Yudi, 1995)

4. Kesimpulan
Dari pemeriksaan dan deskripsi singkat tentang data kalimat bahasa Indonesia yang subordinatif, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1) Bahasa Indonesia tidak tergolong dan termasuk ke dalam salah satu tipologi bahasa . Dalam bahasa Indonesia, terdapat semua tipologi bahasa, yaitu akusatif, aktif, pasif, ergatif, dan antipasif.

2) Perubahan morfologis verba suatu klausa dapat mempengaruhi argumen inti klausa yang lainnya. Dalam hal aliansi gramatikal kalimat subordinatif bahasa Indonesia dapat berupa pelesapan atau zero (Ø), pronominal dan frasa nomina

3) Sistem koreferensial dasar kalimat bahasa Indonesia adalah berupa S =P dimana A berbeda, dan S = A dimana P berbeda. Ada beberapa pola turunan yang bergantung banyak penggabungan dan alternatif variasi penggabungan klausa intransitif dan transitif.



DAFTAR PUSTAKA

Ackerman, F & Webelhuth, G. 1998. A Theory of Predicates. Standford, California: CSLI Publications

Aitchison, J. 1992. Teach Yourself Linguistics. London: Hodder & Stoughton

Alwi, Hasan, dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Artawa, Ketut. 2004. Balinese Language: A Typological Description. Denpasar: CV Bali Media Adhikarsa

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Jakarta: Rineka

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta

Comrie, Bernard. 1989. Language Universals and Linguistic Typology. Great BritainBilling & Sons Ltd.

Dhammananda, Dr. K.Sri. 2005. You & Your Problems (Anda dan Permasalahan Anda). Bogor: Vipassana Giri Ratana

Manning D. C. 1991. Argument Structure and Grammatical Relations. California:
CSLI Publications

Sell Peter. 1985. Lectures Notes on Contemporary Syntactic Theories: an Introduction to Government – Binding Theory, Generalized Phrase Structure Grammar, and Lexical Functional Grammar. United States: CSLI

Sudaryanto. 1983. Predikat-Objek dalam Bahasa Indonesia. Keselarasan Pola-Urutan. Yogyakarat: DJAMBATAN

________. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguitis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

Van Valin, R..D, and LaPolla R.J. 1997. Syntax: Structure, Meaning and Function. Cambridge: Cambridge University Press.

Verhaar, J. 2006. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar